Home » Berita » Investor Asing Mencetak Net Buy Saat IHSG Melemah

Investor Asing Mencetak Net Buy Saat IHSG Melemah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Indeks di awal pekan bahkan anjlok hingga lebih dari 1%. Kemarin, IHSG kembali turun 0,13% ke 5.874,30. Namun, anomali terjadi. In- vestor asing justru terus melakukan aksi beli (net buy). Pada perdagangan awal pekan, net buy asing tercatat 587,30 miliar. Kemarin, net buy masih terjadi meski tipis, Rp 19,54 miliar.

Sejumlah saham menjadi buruan favorit asing. Ada saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang di awal pekan ini mencatat net buy yang masuk mencapai Rp 122,6 miliar, Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebanyak Rp 92,8 miliar, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 64,7 miliar, PT Unilever Tbk (UNVR) senilai Rp 61,9 triliun, dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP). Analis menilai fluktuasi yang terjadi di pasar modal lokal murni karena mekanisme pasar. Dengan kata lain, kondisi pasar masih dalam situasi aman.

“Ketika kondisi pasar dalam keadaan aman, maka asing yang masuk ke pasar modal Indonesia akan menempatkan dana di sektor-sektor yang bagus,” kata Gema Goeyardi, Analis sekaligus Presiden Direktur Astronacci International, Selasa (25/9). Dia menambahkan, memang pekan ini pelaku pasar masih mengamati potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve dan Bank Indonesia (BI). Tapi, meski terjadi kenaikan bunga, sentimen negatif dari hal itu hanya bersifat sementara. “Hanya sideways sesaat, pada akhirnya kembali menguat,” kata Gema.

Sisi teknikal
Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menuturkan, tak menutup kemungkinan investor asing melihat kenaikan suku bunga acuan dari sisi yang berbeda. Kenaikan tersebut berpotensi membuat margin perbankan tetap terjaga. Karena itu, saham perbankan menjadi buruan. Investor asing terutama memburu saham perbankan yang memiliki kapitalisasi pasar besar. Pada saat yang bersamaan, tingkat in? asi masih stabil. Fluktuasi nilai tukar rupiah juga sudah tak terlalu tinggi, meski kurs masih rendah. “Itu menguatkan IHSG,” ujar Nafan. Ia menilai, secara teknikal, penguatan indeks saham lanjutan masih berpotensi terjadi. Nafan menyebut, dilihat dari sisi teknikal, sektor perbankan dan konsumer memiliki indikasi buy.

Ini didukung oleh tendensi perbankan untuk mendorong kinerja. Untuk jangka menengah, Nafan melihat saham BMRI layak untuk dipertimbangkan. Investor bisa beli bertahap dengan target jangka pendek Rp 7.175 per saham untuk BMRI. TLKM juga bisa trading buy dengan target harga Rp 4.530 untuk jangka menengah, UNVR target harga jangka pendek Rp 51.000. Sedang menu untuk jangka panjang pilihan analis adalah saham BBCA.

Investor sudah bisa lakukan aksi buy untuk jangka panjang hingga tahun depan, dengan target harga Rp 28.800 per saham. Sementara, Gema hanya merekomendasikan saham BBRI. Ia memberikan rekomendasi buy on weakness untuk saham ini. Begitu juga saham BBCA yang dapat dilirik untuk investasi jangka panjang dan menengah. “Enggak semua saham perbankan itu berjalan bersamaan, jadi kita akan melihat saham saham yang pasti akan naik secara price action analysis dan pattern chart,” kata Gema.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *