Home » Berita » Tips Untuk Memenangkan Persaingan Bisnis Online

Tips Untuk Memenangkan Persaingan Bisnis Online

UKM go digital, rasanya sudah menjadi kosakata yang akrab di telinga para pelaku bisnis UkM. karena tidak bisa lagi disangkal, mau tidak mau, suka tidak suka, saat ini belanja online sudah mulai menjadi lifestyle. Survei Google juga menemukan, bisnis yang menggunakan teknologi digital akan mengalami percepatan 80 persen lebih cepat daripada yang tidak. Tapi, teknologi bukan solusi, hanya sebuah tool. Untuk itu, di tangan penggunanyalah teknologi itu bisa bermanfaat. apa sajakah yang harus dipahami agar bisa menaklukkannya?

Memenangkan Persaingan Bisnis Online

Pasar Yang Potensial
Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, Pisang Goreng Madu Bu Nanik menjadi kudapan favorit baru. Tiap hari, ribuan pisang goreng berwarna hitam seperti pisang goreng gosong ini mondar-mandir melintasi jalanan Jakarta begitu diangkat dari wajan penggorengannya, di kawasan Tanjung duren, Jakarta Barat. di tokonya, pengemudi ojek online Go-jek antre untuk mengambil pesanan yang terus berdatangan dari berbagai penjuru Jakarta. “Pada tahun 2014 kami mengajukan sendiri untuk bekerja sama dengan Go-Food untuk mempermudah memenuhi permintaan konsumen yang jaraknya jauh dari toko kami. Sebab hingga kini kami belum memiliki cabang.

Sementara pesanan berasal dari berbagai tempat,” kata michelle Kristanto molloy, anak kedua nanik soelistiowati, pemilik Pisang Goreng Madu Bu Nanik. Sebelumnya, Nanik sudah memiliki layanan delivery, namun sumber dayanya terbatas, hanya terdiri dari lima orang pengantar setiap hari. itu pun terbatas dari jarak dan jumlah pembelanjaan. “Waktu itu kami hanya melayani pesanan ke sekitar Jalan Sudirman saja dan hanya untuk minimal pesanan 100 pieces,” imbuhnya. Hasilnya memang nyata. dari awalnya hanya memiliki 3 penggorengan, kini ia harus menggunakan 30 penggorengan untuk melayani permintaan pelanggan.

Pada tahun 2017, Pisang Goreng Madu Bu Nanik menjadi merchant paling laku di platform Go-Food. Cerita sukses pisgor madu ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah sukses pebisnis UkM yang menggunakan teknologi. Tidak bisa disangkal, teknologi internet memang membuat segala sesuatu jadi mungkin. Tak heran bila banyak pihak yang concern dengan pertumbuhan UkM di indonesia mendorong pelaku bisnis UkM untuk menggunakan teknologi digital. riset deloitte pada tahun 2016 yang menemukan, dari 57,9 juta UkM di indonesia (berdasarkan data dari kementrian koperasi dan UkM), ternyata hanya 9 persen yang serius menggunakan internet untuk menjual produknya di media sosial maupun platform e-commerce.

data tahun 2016 ini masih relevan dengan kondisi sekarang, karena menurut Tuhu nugraha, digital Strategy expert & Trainer, yang juga penulis buku WWW.HM Defining Your Digital Strategy, pasar e-commerce di indonesia saat ini baru 2 persen saja nilainya dari total nilai perdagangan di indonesia. “Tapi, angka itu belum mencatat transaksi di media sosial langsung dari produsen ke konsumen yang saya yakin saat ini jumlahnya juga besar. karena itu, ke depan arahnya bisnis akan banyak berada di digital,” kataTuhu.

Sebagai gambaran adalah apa yang terjadi di Cina. Saat ini e-commerce mulai menyentuh angka 30 persen. Tak heran bila pada hari diskon belanja online nasional bernama Single’s Day (seperti Harbolnas di sini), semua mal sepi. “Pada hari itu, orang-orang belanja online, mulai dari sekadar sayur-mayur, kosmetik, fashion, hingga gadget. ibaratnya, semua orang menunggu hari diskon tersebut,” ujar Tuhu. Tahun lalu, alibaba, e-commerce raksasa Cina, meraup penjualan hingga 1,5 miliar dolar aS (sekitar rp21 triliun) hanya dalam 3 menit pertama pada hari tersebut! Sementara di indonesia, pada Harbolnas 2017 lalu, selama 3 hari tercatat transaksi hingga rp4 triliun.

Melihat pencapaian angka transaksi tersebut, apakah budaya online ini sudah mulai terbentuk di dunia bisnis di indonesia? Belanja lewat online memang memberikan kneyaman dan kemudahan. dari sisi penjual, mengingat indonesia yang begitu luas, maka dengan membuka toko online si penjual bisa mendapatkan pelanggan dengan jangkauan yang sangat luas, tanpa harus membuka toko fisik. “Sementara, dari sisi konsumen, mereka bisa browsing produk apa pun, membandingkan satu produk dari satu toko dengan toko lainnya, dan melakukan transaksi hanya dari layar gawainya,” kata Tuhu.

Bila secara formal e-commerce saat ini baru 2 persen, hal itu karena pembelanja di online sebagian besar masih dari kalangan milenial, yang jumlahnya sekitar 27 persen dari total populasi di indonesia. “kalangan milenial ini buying power-nya belum terlalu besar. Namun, beberapa tahun mendatang, ketika mereka sudah mulai mapan secara ekonomi, maka pasar memang akan bergerak di online,” kata Tuhu. apalagi bila dua hal yang selama ini menjadi tantangan dalam bisnis di ranah maya, yaitu soal payment dan logistik, sudah tertangani, maka akan terjadi peningkatan yang pesat. Untuk logistik, saat ini bisa dibilang sudah lumayan. Pertumbuhan bisnis di bidang ini juga makin semarak sehingga para pemilik lapak.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *